Irbesartan

Komposisi

Tiap kaptab salut selaput mengandung irbesartan 150 mg.

Tiap kaptab salut selaput mengandung irbesartan 300 mg.

Farmakologi

Farmakoterapeutik

Irbesartan merupakan obat keras, aktif secara oral, antagonis selektif reseptor angiotensin II (tipe AT1).

Mekanisme Kerja

Irbesartan diharapkan menghambat semua kerja dari angiotensin II yang diperantarai oleh reseptor AT1, tanpa memperhatikan sumber atau rute sintesis dari angiotensin II. Antagonisme selektif dari reseptor-reseptor angiotensin II (AT1) menghasilkan peningkatan pada tingkat renin plasma dan tingkat angiotensin II, serta penurunan dalam konsentrasi aldosteron plasma. Tingkat kalium serum tidak secara signifikan dipengaruhi oleh irbesartan secara tunggal pada dosis yang direkomendasikan. Irbesartan tidak menghambat ACE (kininase-II), suatu enzim yang menghasilkan angiotensin II dan juga mendegradasi bradikinin ke dalam metabolit inaktif. Irbesartan tidak memerlukan aktivasi metabolik untuk aktivitasnya.

Efikasi Klinis

  • Hipertensi

Irbesartan menurunkan tekanan darah dengan perubahan minimal pada kecepatan jantung. Penurunan tekanan darah pada pemberian dosis sekali sehari dengan tendensi ke arah stabil pada dosis di atas 300 mg. Dosis 150 mg-300 mg sekali sehari menurunkan tekanan darah pada posisi telentang atau duduk (misal 24 jam setelah pemberian obat) dengan rata-rata 8-13/5-8 mmHg (sistolik/diastolik).

Penurunan puncak tekanan darah didapat dalam waktu 3-6 jam setelah pemberian obat dan efek penurunan tekanan darah dipertahankan paling sedikit selama 24 jam. Setelah 24 jam, penurunan tekanan darah mencapai 60-70% dari respon puncak diastolik dan sistolik pada dosis yang direkomendasikan. Dosis sekali sehari sebesar 150 mg memperpanjang respon dan respon rata-rata 24 jam sama dengan dosis dua kali sehari pada jumlah total dosis yang sama.

Efek penurunan tekanan darah dari irbesartan dan diuretik tipe tiazida merupakan efek tambahan. Pada pasien yang tidak cukup dikontrol hanya dengan irbesartan saja, penambahan suatu dosis rendah hidroklorotiazida (12,5 mg) pada irbesartan sekali sehari memberikan reduksi pada tekanan darah sampai 7-10/3-6 mmHg (sistolik/diastolik).

Efikasi dari irbesartan tidak dipengaruhi baik oleh umur maupun jenis kelamin. Tidak terdapat efek yang penting secara klinis pada asam urat serum atau sekresi asam urat melalui urin.

  • Hipertensi dan diabetes mellitus tipe 2 dengan penyakit ginjal

Irbesartan digunakan pada pengelolaan nefropati diabetik yang dimanifestasikan oleh peningkatan kreatinin serum dan proteinurea (ekskresi protein melalui urin melebihi 300 mg per hari) pada pasien-pasien yang mengidap diabetes tipe 2 dan hipertensi.

Baik antagonis reseptor angiotensin II maupun  inhibitor ACE, keduanya memperlambat kecepatan perkembangan penyakit ginjal pada pasien-pasien hipertensi yang mengidap diabetes mellitus dan mikroalbuminuria atau overt nephrophaty. Beberapa bukti memperlihatkan bahwa obat-obat tersebut kemungkinan memperlambat perkembangan nefropati dengan suatu mekanisme yang independen dari efek antihipertensinya. Namun demikian, belum ada studi banding yang cukup untuk mengevaluasi efikasi dari antagonis reseptor angiotensin II terhadap inhibitor ACE. Inhibitor ACE menunda perkembangan dari nefropati pasien-pasien hipertensi maupun normotensi yang mengidap diabetes mellitus tipe 1 dan berbagai tingkatan albuminuria. Antagonis reseptor angiotensin II atau inhibitor ACE juga menunda perkembangan ke arah makroalbuminuria/overt neurophaty pada pasien hipertensi yang mengidap diabetes mellitus tipe 2 dan mikroalbuminuria. Pada pasien yang mengidap diabetes mellitus tipe 2, hipertensi, nefropati klinis, atau insufisiensi ginjal (ditetapkan dengan konsentrasi kreatinin serum melebihi 1,5 mg/dL), antagonis reseptor angiotensin II menunda perkembangan nefropati, sehingga obat ini disarankan sebagai terapi awal pada beberapa pasien. Terapi kombinasi antara inhibitor ACE dan antagonis reseptor angiotensin II menimbulkan efek tambahan dalam menurunkan tekanan darah, dan beberapa memperpanjang mikroalbuminuria, namun demikian diperlukan studi lanjutan untuk menetapkan efek dari beberapa terapi kombinasi terhadap fungsi ginjal.

Harus dilakukan observasi terhadap penggunaan antagonis reseptor angiotensin II pada pasien yang mengidap kerusakan ginjal substansial.

 

Farmakokinetik

Setelah pemberian secara oral, irbesartan diabsorpsi dengan baik. Studi dari bioavailabilitas absolut memberikan nilai sekitar 60-80%. Pemberian bersamaan dengan makanan tidak secara signifikan mempengaruhi bioavailabilitas dari irbesartan.

Ikatan protein plasma adalah sekitar 96%, dengan mengabaikan ikatan terhadap komponen-komponen sel darah. Volume distribusi adalah 53-93 liter.

Irbesartan dimetabolisme oleh hati melalui konjugasi dan oksidasi glukuronida. Sirkulasi metabolit utama adalah irbesartan glukuronida (sekitar 6%). Suatu studi in vitro mengindikasikan bahwa irbesartan terutama dioksidasi oleh enzim sitokrom P450 CYP2C9; efek isoenzim CYP3A4 diabaikan.

Konsentrasi plasma puncak dicapai pada 1,5-2 jam setelah pemberian oral. Total klirens tubuh adalah 157-176 mL/menit dan total klirens ginjal adalah 3-3,5 mL/menit. Waktu paruh eliminasi terminal dari irbesartan adalah 11-15 jam. Konsentrasi plasma yang tetap didapat dalam waktu 3 hari setelah pemberian awal dari suatu dosis terbagi sekali sehari. Batas akumulasi dari irbesartan (< 20%) teramati dalam plasma pada pemberian ulang dosis sekali sehari. Nilai AUC dan Cmax dari irbesartan pada pasien usia lanjut (≥ 65 tahun) agak lebih tinggi daripada pasien usia muda (18-40 tahun). Meskipun demikian, waktu paruh terminal tidak secara signifikan berubah. Tidak diperlukan penyesuaian dosis pada pasien usia lanjut. Irbesartan dan metabolitnya dieliminasi baik melalui empedu maupun ginjal.

  • Kerusakan ginjal

Pada pasien yang mengidap kerusakan ginjal atau yang menjalani hemodialisa, parameter-parameter farmakokinetik tidak secara signifikan berubah. Irbesartan tidak hilang dengan hemodialisa.

  • Kerusakan hati

Pada pasien yang mengidap sirosis ringan sampai sedang, parameter-parameter farmakokinetik tidak secara signifikan berubah. Belum dilakukan studi terhadap pasien yang mengidap kerusakan hati yang berat.

Indikasi

  • Pengobatan hipertensi.
  • Menurunkan mikro dan makro albuminuria pada pasien hipertensi yang mengidap diabetik nefropatik yang disebabkan NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetic Mellitus).

Dosis

Dosis awal dan dosis pemeliharaan yang biasa direkomendasikan adalah 150 mg sekali sehari, dengan atau tanpa disertai makanan. Pemberian dosis irbesartan sebesar 150 mg pada umumnya dapat mengontrol tekanan darah selama 24 jam, lebih baik bila dibandingkan dengan dosis sebesar 75 mg. Namun demikian, terapi awal dengan dosis 75 mg harus dipertimbangkan terutama pada pasien yang menjalani hemodialisa dan pasien usia lanjut di atas 75 tahun. Pada pasien yang tidak cukup dikontrol dengan dosis 150 mg sekali sehari, dosis irbesartan dapat ditingkatkan menjadi 300 mg, atau ditambahkan antihipertensi lain. Secara khusus, penambahan diuretik seperti hidroklorotiazida memberikan efek tambahan dengan irbesartan. Pada pasien hipertensi yang juga mengidap diabetes tipe 2, terapi harus dimulai dengan dosis 150 mg sekali sehari dan ditingkatkan sampai 300 mg sekali sehari sebagai dosis pemeliharaan khusus untuk pengobatan penyakit ginjal.

Kerusakan ginjal

Tidak diperlukan penyesuaian dosis pada pasien yang mengidap kerusakan fungsi ginjal. Dosis awal yang rendah (75 mg) harus dipertimbangkan untuk diberikan pada pasien yang menjalani hemodialisa.

Pengurangan volume intravaskular

Pengurangan volume dan/atau natrium harus dikoreksi sebelum pemberian irbesartan.

Kerusakan hati

Tidak diperlukan penyesuaian dosis pada pasien yang mengidap kerusakan hati ringan sampai sedang. Tidak ada pengalaman klinis pada pasien yang mengidap kerusakan hati berat.

Pasien usia lanjut

Meskipun pertimbangan harus diberikan pada terapi awal dengan dosis 75 mg untuk pasien dengan usia lebih dari 75 tahun, penyesuaian dosis tidak diperlukan pada usia lanjut.

Anak-anak

Keamanan dan efikasi pada anak-anak belum ditetapkan.

Overdosis

Pengalaman pada pasien dewasa memperlihatkan bahwa pemberian dosis sampai 900 mg/hari selama 8 minggu tidak menyebabkan toksisitas. Kebanyakan manifestasi yang mungkin dari overdosis adalah hipotensi dan takikardia; bradikardia juga mungkin terjadi. Pasien harus dimonitor dengan ketat, dan pengobatan harus bersifat simtomatik dan suportif. Disarankan untuk melakukan tindakan seperti  induksi muntah dan kuras lambung. Arang aktif dapat digunakan dalam pengobatan overdosis. Irbesartan tidak hilang karena hemodialisa.

Kontraindikasi

  • Hipersensitivitas terhadap komponen-komponen obat.
  • Kehamilan trimester kedua dan ketiga.

Peringatan dan Perhatian

  • Pengurangan volume intravaskular: gejala hipotensi, terutama setelah dosis pertama, mungkin terjadi pada pasien yang volume dan atau natriumnya menipis akibat terlalu kuatnya terapi diuretik yang diberikan, pembatasan asupan garam, diare atau muntah. Beberapa kondisi harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum pemberian irbesartan.
  • Hipertensi renovaskular: akan terjadi peningkatan risiko hipotensi berat dan insufisiensi ginjal, ketika pasien yang mengidap bilateral renal artery stenosis atau stenosis of the artery dimana kemudian ginjalnya hanya satu yang berfungsi, mendapat pengobatan dengan obat-obatan yang mempengaruhi sistem renin-angiotensin-aldosteron. Suatu efek yang mirip harus juga diantisipasi pada pemberian antagonis reseptor angiotensin II.
  • Kerusakan ginjal dan transplantasi ginjal: ketika irbesartan diberikan pada pasien yang mengidap kerusakan fungsi ginjal, direkomendasikan untuk dilakukan monitoring secara periodik terhadap kadar kalium dan kreatinin serum. Tidak ada pengalaman mengenai penggunaan irbesartan pada pasien yang baru saja mendapat transplantasi ginjal.
  • Pasien hipertensi yang mengidap diabetes tipe 2 dan penyakit ginjal: berdasarkan hasil studi analisa pada pasien yang mengidap penyakit ginjal lanjutan, efek-efek irbesartan baik terhadap ginjal maupun kardiovaskular tidak merata pada seluruh kelompok. Utamanya, efek tersebut terjadi pada subjek wanita dan bukan kulit putih.
  • Hiperkalemia: seperti obat-obat lain yang mempengaruhi sistem renin-angiotensin-aldosteron, hiperkalemia mungkin terjadi selama pengobatan dengan irbesartan, terutama dengan adanya gagal ginjal, overt proteinuria yang menyebabkan penyakit ginjal diabetik, dan/atau gagal jantung. Direkomendasikan untuk melakukan pemantauan yang ketat terhadap kalium serum pada pasien yang berisiko.
  • Litium: kombinasi litium dan irbesartan tidak direkomendasikan untuk digunakan.
  • Aortic dan mitral valve stenosis, kardiomiopati hipertropik obstruktif: seperti vasodilator lain, perhatian khusus harus diberikan pada pasien yang mengidap aortic atau mitral stenosis, atau kardiomiopati hipertropik obstruktif.
  • Aldosteronisme primer: pasien yang mengidap aldosteroisme primer pada umumnya tidak memberikan respon terhadap obat-obat antihipertensi yang bekerja dengan menghambat sistem renin –angiotensin. Oleh karena itu, penggunaan irbesartan tidak direkomendasikan.
  • Umum: pada pasien-pasien dimana vascular tone dan fungsi ginjalnya sangat bergantung pada aktivitas sistem renin-angiotensin-aldosteron (misalnya pasien yang mengidap gagal jantung kongestif berat atau penyakit yang berkaitan dengan ginjal, mencakup renal artery stenosis), pemberian pengobatan dengan inhibitor ACE atau antagonis reseptor angiotensin II yang mempengaruhi sistem ini berkaitan dengan hipotensi akut, azotaemia, oliguria, atau yang jarang terjadi gagal ginjal akut. Seperti kebanyakan obat antihipertensi, penurunan tekanan darah secara berlebihan pada pasien yang mengidap kardiopati iskemik atau kardiovaskular iskemik dapat menyebabkan infark miokardial atau stroke.

Interaksi Obat

  • Diuretik dan obat antihipertensi lain: obat antihipertensi lain dapat meningkatkan efek hipotensi dari irbesartan, namun demikian irbesartan aman diberikan bersama-sama dengan antihipertensi lain seperti beta bloker, long acting calcium channel blocker, dan diuretik tiazida. Pengobatan sebelumnya dengan diuretik dosis tinggi menyebabkan penipisan volume dan risiko hipotensi ketika diberikan terapi awal dengan irbesartan.
  • Suplemen kalium dan potassium-sparing diuretics: pemberian obat lain yang mempengaruhi sistem renin angiotensin, penggunaan bersamaan dari potassium-sparing diuretics, suplemen kalium, pengganti garam yang mengandung kalium atau obat lain yang mungkin meningkatkan kadar kalium serum (misal heparin) dapat menyebabkan peningkatan kalium serum, dan oleh karenanya tidak direkomendasikan untuk diberikan secara bersama-sama.
  • Litium: peningkatan yang reversibel pada konsentrasi litium serum dan toksisitas pernah dilaporkan selama penggunaan bersamaan dari litium dan inhibitor ACE. Efek yang serupa sangat jarang terjadi pada pemberian irbesartan. Oleh karena itu, kombinasi ini tidak direkomendasikan. Jika kombinasi ini memang terbukti diperlukan, lakukan pemantauan secara hati-hati terhadap kadar litium serum.
  • Antiinflamasi nonsteroid: ketika antagonis angiotensin II diberikan secara simultan dengan antiinflamasi nonsteroid (seperti inhibitor selektif COX-2, asam asetil salisilat (> 3 g/hari) dan antiinflamasi nonsteroid nonselektif), dapat terjadi penurunan efek antihipertensi. Seperti dengan inhibitor ACE, penggunaan bersamaan antagonis angiotensin II dan antiinflamasi nonsteroid dapat menyebabkan peningkatan risiko kerusakan fungsi ginjal, termasuk kemungkinan terjadinya gagal ginjal akut, dan peningkatan kalium serum, terutama pada pasien-pasien yang fungsi ginjalnya kurang. Suatu kombinasi obat harus diberikan secara hati-hati, terutama pada pasien usia lanjut. Pasien harus dihidrasi secukupnya dan dipertimbangkan untuk dilakukan pemantauan terhadap fungsi ginjal setelah pelaksanaan awal terapi kombinasi, dan seterusnya secara periodik.
  • Informasi tambahan: farmakokinetik dari irbesartan tidak dipengaruhi oleh pemberian hidroklorotiazida. Irbesartan terutama dimetabolisme oleh CYP2C9 dan sedikit diperpanjang oleh glukuronidasi. Tidak terjadi interaksi farmakokinetik atau farmakodinamik yang signifikan ketika irbesartan diberikan bersama warfarin, suatu obat yang dimetabolisme oleh CYP2C9. Efek-efek dari CYP2C9 inducers seperti rifampisin terhadap farmakokinetik irbesartan belum dievaluasi. Farmakokinetik dari digoxin tidak berubah pada pemberian bersama dengan irbesartan.

Efek Samping

  • Kehamilan: irbesartan tidak dianjurkan untuk digunakan selama tiga bulan pertama kehamilan. Pada trimester kedua dan ketiga kehamilan, substansi-substansi yang bekerja langsung pada sistem renin-angiotensin dapat menyebabkan kegagalan ginjal pada janin atau neonatal, foetal skull hypoplasia, dan bahkan kematian janin, oleh karena itu, irbesartan bersifat kontraindikasi pada trimester kedua dan ketiga kehamilan. Jika didiagnosa hamil, penggunaan irbesartan harus segera dihentikan, tengkorak dan fungsi ginjal harus diperiksa dengan echography, jika pengobatan dengan obat ini telah berlangsung lama.
  • Laktasi: belum diketahui apakah irbesartan diekskresikan melalui ASI, tetapi obat ini diekskresikan melalui susu pada tikus yang menyusui.
  • Kemampuan mengemudi dan mengoperasikan mesin: efek dari irbesartan terhadap kemampuan mengemudi dan mengoperasikan mesin belum diteliti, tetapi berdasarkan farmakodinamiknya, irbesartan tidak mempengaruhi kemampuan tersebut. Ketika mengemudi kendaraan atau mengoperasikan mesin, harus dipertimbangkan terjadinya pusing atau kelelahan selama pengobatan hipertensi.
  • Hipertensi: efek samping yang umum dilaporkan terjadi pada penggunaan irbesartan adalah pusing, mual/muntah, fatigue. Sedang yang tidak umum terjadi yaitu takikardia, flushing, batuk, diare, dispepsia/heartburn, disfungsi seksual, dan nyeri dada.
  • Hipertensi dan diabetes tipe 2 dengan penyakit ginjal: efek samping obat berupa orthostatic dizziness dan orthostatic hypotension dilaporkan terjadi pada 0,5% pasien hipertensi diabetik dengan mikroalbuminuria dan fungsi ginjal normal. Pada > 2% pasien hipertensi diabetik dengan insufiensi ginjal kronik dan overt proteinuria, efek samping yang dilaporkan terjadi adalah orthostatic dizziness, orthostatic hypotension, dan nyeri pada muskuloskeletal. Pada pasien hipertensi diabetik dengan mikroalbuminuria dan fungsi ginjal normal, hiperkalemia (≥ 5,5 mEq/L) terjadi pada 29,4% pasien yang mendapat irbesartan 300 mg. Pada pasien hipertensi diabetik dengan insufisiensi ginjal kronik dan overt proteinuria, hiperkalemia (≥ 5,5 mEq/L) terjadi pada 46,3% pasien yang mendapat irbesartan. Suatu penurunan hemoglobin yang tidak signifikan secara klinis terjadi pada 1,7% pasien hipertensi dengan penyakit ginjal diabetik lanjutan yang mendapat pengobatan dengan irbesartan.
  • Kerusakan sistem imun: seperti antagonis reseptor angiotensin II lainnya, kasus-kasus reaksi hipersensitif yang jarang terjadi seperti ruam, urtikaria, angioedema, dilaporkan pernah terjadi. Selain itu, juga dilaporkan efek samping yang sangat jarang terjadi, yaitu hiperkalemia, sakit kepala, tinitus, dysgeusia, fungsi liver abnormal, hepatitis, mialgia, artralgia, kerusakan fungsi liver yang mencakup kasus-kasus tertentu dari gagal ginjal pada pasien-pasien yang berisiko.

Penyimpanan

Simpan di bawah 30ºC.

Kemasan dan Nomor Registrasi

Irbesartan 150 mg kaptab salut selaput, kotak, 5 blister @ 10 kaptab salut selaput.

No. Reg. GKL1220938009B1

Irbesartan 300 mg kaptab salut selaput, kotak, 5 blister @ 10 kaptab salut selaput.

No. Reg. GKL1020938009A1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

527total visits,1visits today